12 November 2012

Guru Luar Biasa untuk Siswa Istimewa

Sinar mentari menghangatkan udara pagi itu. Rumput-rumput masih basah bekas hujan semalam. Halaman depan sekolah itu agak becek di beberapa bagian yang tak berumput. Ada yang baru datang, berseragam merah putih dan menggendong tas. Ada yang sedang menggambar di ubin sekolah dengan kapur berwarna. Beberapa anak nampak asyik bermain ayunan dan berkejaran saling menggoda. Lainnya asyik “mengobrol” dengan gerakan isyarat tangan.
dari sini


Bila kita perhatikan, siswa-siswa di sekolah itu beragam usianya. Dan memang sekolah itu mencakup jenjang TK sampai SMA. Ada yang masih berusia anak-anak, beberapa remaja, dan bahkan remaja tanggung belasan tahun. Perbedaan lainnya dibandingkan sekolah lain adalah jumlah murid sekolah itu tidaklah banyak, hanya 50-an anak. Keistimewaan lainnya adalah sekolah itu hanya menerima anak-anak dengan kebutuhan khusus, sepanjang tahun tak peduli itu awal tahun ajaran atau bukan. Misalnya mereka yang tuna rungu, tuna wicara, tuna daksa, tuna grahita, dan autisme. Ya, sekolah itu adalah Sekolah Luar Biasa (SLB).

Bapak saya mengabdikan dirinya sebagai guru di sekolah itu sejak beberapa tahun lalu. Sebelumnya Bapak mengajar di sekolah luar biasa di kecamatan lain. Pernah saat saya kecil, mungkin belum genap 5 tahun, saya diajak Bapak ke tempat beliau mengajar. Pertama kali saya bertemu mereka, anak-anak yang berbeda dengan teman-teman saya, jujur, membuat saya takut saat itu. Saya yang biasanya pemalu, semakin bingung mengajak mereka berkomunikasi. Tetapi Bapak bisa memahami hal itu. Tapi paling nggak itu pengalaman pertama saya melihat murid-murid Bapak.

Bapak mengatakan bahwa mereka istimewa, hanya saja membutuhkan pengajaran dan bimbingan yang khusus dan berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Mengapa? Karena mereka membutuhkan hal-hal yang berbeda dengan anak-anak biasa. Karena membutuhkan pengajaran khusus, pastinya sang guru juga harus memiliki keahlian khusus untuk mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus tersebut. Bukan hanya kemampuan mengajar, namun juga rasa tulus dan menyayangi mereka.

Bapak kadang bercerita bagaimana kisah hidup Bapak dalam mengajar di SLB. Selama 28 tahun mengajar, banyak kisah suka dan duka menjadi guru SLB, kata beliau. Bila di sekolah biasa umumnya murid menghormati guru, bukan sekali dua kali Bapak hampir dipukul oleh siswanya. Siswa-siswa Bapak memang memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dan unik, termasuk suka memukul, entah itu teman atau guru. Butuh ketegasan sekaligus kelembutan dalam menangani siswa seperti itu. Lain lagi pengalaman lain. Pernah suatu hari, seorang laki-laki datang ke sekolah, menagih uang. Ternyata siswa bapak membeli makanan di warung tanpa membayar. Si pemilik warung pun mendatangi sekolah, dan sang guru yang membayar hutang tersebut. Akan tetapi, pengalaman-pengalaman nggak enak kayak di atas tidaklah berbanding dengan kebahagiaan Bapak mengajar mereka. Melihat anak-anak itu bisa tersenyum dan tertawa, lulus kemudian mampu mandiri tanpa merepotkan orang lain adalah kebahagiaan tersendiri.

Biasanya tujuan kita bersekolah adalah agar kelak dapat bekerja, mendapatkan penghasilan yang layak, kemudian membangun kehidupan yang bahagia. Sedangkan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus bertujuan bagaimana mereka dapat mandiri dalam kehidupan yang lebih baik. Tujuan yang sederhana tapi dalam maknanya sebenarnya. Bagi mereka yang terikat erat dengan mereka, ada pertanyaan yang acapkali terlintas di benak, yaitu bagaimana kelak mereka hidup dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri. Nah, jawaban atas pertanyaan tersebut hanya dijawab dengan satu hal, pendidikan. Dan guru adalah pilar utama pendidikan di sekolah, sedangkan orang tua adalah elemen kunci pendidikan di rumah. Dua sosok tersebut harus mampu bersinergi dalam mendidik dan membimbing anak-anak berkebutuhan khusus.

Oleh karena itu, sekolah tidak hanya sebuah kelas dengan meja kursi kayu dan hapalan di papan tulis. Mereka membutuhkan keterampilan, lebih banyak daripada teori-teori, di rumah kedua mereka yaitu sekolah. Para guru pun harus menguasai berbagai keterampilan untuk ditularkan kepada anak didik. Keterampilan-keterampilan itu adalah bekal mereka untuk mandiri, bahkan beberapa mampu mengembangkannya menjadi mata pencaharian yang menjaga asap dapur mereka tetap mengepul. Contohnya di sekolah Bapak saya itu. Para siswa mampu memproduksi susu kedelai yang tidak diragukan lagi kelezatannya. Selain itu, mereka pun mampu membuat kue nastar sendiri, bahkan para guru pun ketagihan memesannya. Sekolah itu juga memiliki kolam ikan lele yang dipelihara dan dirawat bersama-sama, hasil panennya sebagian dinikmati sendiri sisanya dijual. Tak ketinggalan sepetak tanah di halaman belakang tempat mereka bercocok tanam sayur-sayuran.
dari sini 
Berbagai inovasi tersebut tidak lepas dari inisiatif para guru di sekolah itu. Peran guru dalam mendidik anak berkebutuhan khusus memang sangat sangat besar. Berbagai kegiatan di atas menuntut guru untuk mampu membekali para siswa dengan keterampilan-keterampilan yang berguna di kehidupan nyata. Dengan keterampilan memasak dan menjahit yang diajarkan sang guru, si anak tidak merepotkan orang tua mereka, dapat membantu orang tuanya di rumah, bahkan mungkin mampu membuka usaha sendiri.

Guru yang baik adalah guru yang mengajar dengan hati. Termasuk dalam mendidik mereka, anak-anak yang berkebutuhan khusus. Hati yang tulus dan penuh kasih berbalut kesabaran harus dimiliki mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan anak berkebutuhan khusus. Selain itu, sang guru harus menyadari bahwa setiap anak pasti berbeda pribadi dan kemampuannya. Sebagian mungkin akan menyambut sang guru dengan tangan terbuka, yang lainnya bisa saja tertutup rapat seperti kerang yang melindungi mutiara. Maka, pendekatan personal terhadap setiap siswa mutlak diperlukan. Sang guru jangan menyerah bila harus menjelaskan berulangkali kepada hanya salah satu siswa. Karena kemampuan tiap siswa berbeda, maka dibutuhkan pengertian dan pendekatan yang berbeda pada setiap individu.

Setiap manusia dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, begitu pula anak berkebutuhan khusus. Meskipun sebagian besar dari mereka menyandang ketunaan, mereka tentu memiliki potensi diri yang tersembunyi. Potensi tersebut bila mampu ditemukan dan digali dapat dikembangkan menjadi suatu kelebihan. Misalnya, seorang murid Bapak yang bernama Triyanto. Ternyata bakatnya adalah dalam olahraga, terutama lompat jauh. Bakat tersebut berhasil diasah dengan latihan yang tekun. Hasilnya, dia mampu menyabet juara ketiga Porsenitas tingkat Nasional untuk cabang lompat jauh. Prestasi seperti itulah yang akan meningkatkan kepercayaan diri anak didik.

dari sini

dari sini
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya berlangsung di bangku sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan masyarakat si anak. Prestasi anak berkebutuhan khusus di sekolah akan sia-sia bila ternyata di rumah sang orang tua tidak memberikan penghargaan dan dorongan kepada si anak untuk terus maju. Memang masih ada orang tua yang beranggapan bahwa tugas mengajar adalah hanya tugas guru dan kegiatan belajar sudah selesai ketika si anak pulang ke rumah. Pandangan-pandangan keliru inilah yang harus diluruskan oleh sang guru. Sering kali Bapak melakukan home visit ke rumah si anak yang tidak masuk sekolah beberapa hari. Bapak berusaha mengajak anak tersebut dan meyakinkan sang orang tua bahwa pendidikan untuk anaknya sangat penting, bahkan tidak dapat dinilai dengan uang. Di sinilah kemampuan berkomunikasi sang guru dibutuhkan.

Pendidikan anak berkebutuhan khusus memang bukanlah ladang uang. Selain dibutuhkan perjuangan yang keras, sang guru harus melalui tahapan yang berliku, mulai dari guru honorer, guru bantu, barulah menjadi guru tetap. Akan tetapi, mereka yang mengabdikan diri untuk menjadi sang pengajar pastilah sangat kaya. Hati mereka kaya akan ketulusan dan rasa cinta kasih kepada sesama. Pengorbanan mereka sangat besar bagi anak didiknya agar mampu menjadi pribadi yang mandiri dengan kehidupan yang lebih baik.

dari sini
Saya masih ingat hampir di setiap Lebaran beberapa murid Bapak datang berkunjung. Bercerita dengan Bapak di ruang tamu, kadang-kadang tertawa bersama. Saya sadar, memang benar kata Bapak, mereka memang istimewa. Dan sang guru juga luar biasa mampu membuat mereka istimewa.

1 komentar:

  1. mengharukan, sampai meneteskan air mata..

    BalasHapus