8 Mei 2017

Menuju Kotabumi

Setelah sekian lama blog ini tertidur, saya ingin membangkitkan blog amburadul ini dari tempat peristirahatannya. Saya mau cerita tentang bagaimana caranya untuk sampai di Kotabumi. Asing ya nama kotanya. Nah maka dari itu saya mau nulis tentang itu. Siapa tahu ada pegawai yang penempatan/mutasi ke Kotabumi dan tanpa sengaja googling gimana caranya untuk sampai di Kotabumi. Titik awal keberangkatan adalah Jakarta ya. Perjalanan dari Jakarta bisa menggunakan berbagai moda angkutan, tapi kali ini saya cuma mau cerita perjalanan dengan bis Damri dan pesawat aja.

Cara paling gampang ke Kotabumi adalah dengan naik bis Damri dari stasiun Gambir. Loketnya ada di sebelah barat stasiun Gambir berdekatan dengan taksi. Khusus untuk tujuan Kotabumi, Damri hanya menyediakan 2 kelas, yaitu kelas Bisnis dan kelas Royal Class. Tiket Damri kelas Bisnis dibanderol Rp 185.000 dan kelas Royal Class Rp 270.000. Kelas Bisnis berangkat dari Gambir pukul 20.00 sedangkan kelas Royal Class satu jam sebelumnya(semoga nggak ada perubahan jadwal). O iya, untuk loketnya buka mulai jam 08.00. Jadi jangan kepagian ya ngantri di loketnya.

Butuh waktu sekitar 10-12 jam untuk sampai Kotabumi. Tapi kamu ga akan berada di bis terus karena ketika naik kapal untuk menyeberangi Laut Sunda, penumpang diwajibkan turun dari kendaraan dan menuju ruang penumpang. Tipsnya sih cari ruangan yang bisa lesehan supaya bisa tiduran santai. Tetap hati-hati dan waspada terhadap kondisi sekitar. Bila perjalanan lancar, ombak nggak tinggi, dan  jalan nggak macet, sampai Kotabumi ya jam 5 pagi lah kalau naik bis Damri Bisnis. Kalau naik bis Damri Royal Class lebih awal lagi.

Jalur kedua adalah dengan moda angkutan udara alias pesawat. Trafik penerbangan dari Jakarta ke Lampung cukup padat. Dalam sehari ada beberapa penerbangan baik dari bandara Soekarno-Hatta maupun bandara Halim Perdana Kusumah. Untuk maskapainya tinggal pilih aja, ada Lion Air, Batik Air, Wings Air, Sriwijaya Air, dan Garuda Indonesia buat yang dompetnya tebelan. Untuk maskapai-maskapai tersebut (kecuali Garuda Indonesia) harga tiket berkisar antara 200an sampai 300an ribu perak. Malah pernah harga tiket seratusan ribu perak kalo lagi promo. Sok mangga dipilih.

Perjalanan lewat udara memakan waktu yang singkat, hanya 30 menit sampai mendarat di bandara Radin Inten II. Nah dari bandara ini kamu harus meneruskan lewat darat, bisa dengan taksi bandara, naik bis, atau naik travel. Tarif taksi dari bandara ke Kotabumi Rp300.000 kalo nggak salah. Kalo kamu memilih naik bus umum, kamu harus keluar bandara dan menyeberang jalan. Saya saranin sih naik bis AC aja karena Lampung hawanya panas jadi lebih nyaman kalo pakai bis AC. Sebelum jam 06 sore bis AC masih banyak, ya per setengah jamlah kira-kira. Harga tiketnya 23 ribu perak, tapi kalau ngasih uang 25 ribu sering nggak dikasih kembalian. Nah cara terakhir sih dengan naik travel. Travel di Lampung kebanyakan adalah mobil plat hitam. Tarif untuk sampai Kotabumi ya bisa 40 ribu perak, tapi harus ditawar ya. Perjalanan darat ini menempuh waktu sekitar 2 jam saja. Tidak terlalu jauh dari bandara kan.

Yup, semoga berguna ya buat yang mau menuju Kotabumi. Sekarang Kotabumi lebih aman kok,hehe. 
Foto-fotonya menyusul ya..

30 Juni 2013

Dimanakah Saya??

Topik yang saya ceritakan masih nggak jauh dari penempatan. Tapi kali ini ceritanya adalah dimanakah saya ditempatkan,hehe

Setelah mendapatkan amplop penempatan, saya tidak serta merta membuka amplop tersebut. Nanti sajalah berbarengan dengan yang lain. Eh ternyata udah pada dibuka amplopnya. Nah saya buka amplopnya termasuk yang terakhir jadinya. Banyak teman-teman yang bertanya saya ditempatkan dimana. Yaaah, jawabannya saya belum tahu lha wong belum dibuka amplopnya.


Setelah dibuka, saya agak nggak percaya. Alhamdulillah, kota yang saya pilih dahulu dikabulkan. Dimana?

KOTABUMI. Lampung Utara.

Alhamdulillah…mari mempersiapkan diri J











*thanks to Fitrah a.k.a atas foto2 kerennya :D

28 Juni 2013

Penempatan!!

dari sini
Ibarat telur, maka telur itu siap menetas setelah dierami selama 21 hari. Layaknya padi, setelah benih ditebar, tanaman padi tumbuh dan dirawat pemiliknya, bulir-bulir emasnya sudah waktunya dipanen petani.
Saat ini adalah waktunya.

Pada hari Selasa tanggal 4 Juni 2013, kami semua dikumpulkan di aula eks MA, salah satu tempat pertama kami mendapat penyambutan dahulu. Memang kami tidak diberi tahu apa maksud kami dikumpulkan, namun kami semua menduga acara sebenarnya adalah pengumuman penempatan.

Masih banyak yang tertawa-tawa. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri banyak wajah-wajah yang memancarkan ketegangan, kepasrahan, bahkan penasaran. Seperti acara-acara seremonial lainnya, selalu ada sambutan dari pejabat. Dan di situlah kami mendapat wejangan-wejangan dari beliau.

Lihatlah sisi positifnya. Dimanapun Anda ditempatkan.

Di Aceh sana, di timur jauh Papua, di Saumlaki, atau di Tahuna.

Satu per satu nama kami dipanggil dan mengambil amplop di depan. Banyak yang sudah yang tidak sabar lagi dan segera membuka amplop tersebut. Maka bermunculan ekspresi yang berbeda-beda dari wajah mereka. Senyuman, tertawa, tertegun, melamun, bahkan menangis. Banyak yang ditempatkan sesuai preferensi yang diisinya dahulu. Ada yang hanya bergeser sedikit dari preferensinya. Ada yang ditempatkan bukan di preferensinya. Ada yang ditempatkan di kantor pusat, ada pula yang pulang ke kampung halamannya.

Berdasarkan pernyataan pak pejabat, banyak pertimbangan yang digunakan untuk memutuskan di mana kami ditempatkan. Prestasi selama kuliah, prestasi selama magang, sikap  dan perilaku, dan kebutuhan organisasi. Karena faktor-faktor di atas inilah mungkin tidak semua sesuai dengan keinginan setiap pribadi.
dari sini

Mungkin masa magang adalah masa di mana kami dierami. Mungkin kini saatnya kami siap dipanen. Dan mungkin masa penempatan ini adalah periode kedua kami dierami. Tahap selanjutnya sebelum menjadi nasi.

Lebih enak rasanya mengucapkan “Selamat Datang!” daripada “Selamat Tinggal” bukan?

26 Mei 2013

Don’t Say Goodbye!

Sebuah berita di harian nasional menarik perhatian saya. Inti berita itu adalah sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal pada netbook di tahun 2013 ini! Apalagi sekarang berbagai produsen komputer sudah mulai menghentikan produksi netbook, dan penjualan netbook sekadar hanya untuk menghabiskan stok aja. Kalaupun masih memproduksi, yang diproduksi adalah ultrabook yang lebih tipis, canggih, dan berkelas. Maka, wajarlah tahun ini disebut-sebut sebagai kiamat netbook.

Saya pun teringat pada netbook item saya, jebolan perusahaan Hewleet Packard (HP). Sebenarnya netbook ini bukan komputer jinjing pertama yang saya miliki. Sebelumnya saya udah punya laptop (notebook) pas di tingkat satu. Setahun lebihlah saya bercengkrama dengan si laptop. Sampai suatu ketika saat liburan di rumah, saya menemukan suatu garis putih memanjang di layar laptop saat dihidupkan. Apa yang terjadii!!?
Setelah diselidiki, saya dan keluarga menduga bahwa si Pus adalah pelakunya. Ternyata si Mpus punya kebiasaan meluncur dari atas lemari dan mendarat di meja tempat saya menaruh laptop. Kemungkinan besar laptop saya menjadi landasan mendarat si Pus, akibatnya ya gitu deh. Layarnya jadi bergaris gitu. Setelah googling, ternyata setelah diservis layar yang rusak besar kemungkinannya kumat lagi. Kalo ganti layar harganya juga lumayan, secara garansi udah lewat. Dan saya pun memutuskan untuk menjual laptop pertama saya itu.
Acer 4730ZG, mantan laptop saya


Akhirnya ketemulah salah satu pembeli, di daerah Sleman, deket-deket Monjali. Masnya biasa jual beli laptop bekas sih. Laptop yang dibeli diperbaiki, terus dijual lagi. Dan deal pun terjadi. Laptop pun berpindah tangan, uang pun saya genggam. Bye bye laptop L

Ketik-mengetik dan browsing internet sekarang adalah kebutuhan utama mahasiswa. Maka saya juga harus segera memiliki laptop baru. Masa-masa sibuk nyusun outline, PKL (Praktek Kerja Lapangan), dan nyusun laporannya akan segera tiba. Berbekal uang hasil penjualan si laptop, saya pun berburu laptop lagi. Tapi harga laptop masih terlalu tinggi, uangnya nggak cukup. Target dialihkan ke netbook. Didapatlah si item ini, beli di Jogja dengan harga yang sangat terjangkau saat itu. Uang pun masih ada sisanya,hehehe.

Ada banyak cerita yang saya lalui bersama netbook item ini. Dari cerita nggak penting macam update status facebook sampai begadangan belajar dan nyusun outline, laporan, dll. Jadi bisa dibilang saya lulus kuliah nggak lepas dari jasa besar si item. Berkat dia saya bisa nulis outline, berkat dia saya bisa nyusun laporan PKL, berkat dia saya bisa update status, ngetwit, nonton film, browsing berita. Perannya besarlah dalam hidup saya! Bahkan ketika udah magang pun si item jadi kesayangan saya. Meskipun wifi-nya sering ngadat, kalau nggak ada si item saya cuma bisa bengong, tengok kanan kiri, nyari temen yang bisa direcokin,hehe. 
si item

Meskipun kini kinerjanya tidak seprima dulu, maklum udah uzur, si item tetep punya tempat tersendiri di hati.
Jadi meskipun dunia udah mengucapkan selamat tinggal pada netbook, si item netbook saya ini akan tetap saya jaga. Banyak kenangan dan cerita bersama dia. Biarlah dia akan tetap saya rawat dan jaga, sebagai pengingat perjuangan kala kuliah dan magang,hehe..
Makasih item! :D