Hidup kita terus berjalan.
Terkadang jalanan yang kita lalui lurus, berkelok, tikungan tajam, mendaki,
atau malah menukik tajam. Kebanyakan dari kita akan mengeluh saat kehidupan
kita jatuh, dan sebagian lagi akan bersyukur ketika mereka mencapai puncak setelah
mendaki begitu tinggi. Manusiawi. Apakah cuma gitu aja?
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
28 November 2012
12 Juni 2010
Subjektivitas
Mungkin “seseorang” pernah bilang sama kita,”Aku terima kamu apa adanya.” Dan jujur saya dulu menganggap kata-kata seperti itu bohong besar. Pendapat saya dulu, tiap manusia punya keinginan mendapat yang sempurna, atau paling nggak dapet yang terbaik biar keliatan sempurna,hehe..Pasti ada kan motif kayak gitu, dan itu wajar kok dari perspektif umum.
Dan dulu pun saya punya pendapat yang bertentangan,”Saya nggak mau terima kamu apa adanya, tapi saya akan mengubah kamu jadi lebih baik.” Siapa sih yang nggak mau jadi lebih baik?
Saya pegang prinsip itu erat-erat. Tuhan pasti menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan. Dan saya percaya ada beberapa kekurangan dapat diubah, entah melalui usaha sendiri ataupun lewa tangan orang lain. Saya percaya semua itu bisa.
Akan tetapi, belakangan nampaknya kata-kata itu harus direvisi. Inti dari prinsip itu masih saya pegang, tetapi yang harus bergeser adalah tentang apa sih kekurangan kita?
Tuhan menciptakan kita dengan tambal sulam di berbagai sudut. Tapi itulah yang membuat sempurna. Sempurna itu bukan tanpa cela, sempurna itu bukan tidak pernah berbuat keliru. Sempurna itu tahu apa yang salah dengan dirinya dan mengerti bagaimana memperbaiki kesalahannya. Tuhan itu Maha Adil. Suatu kepastian seseorang memiliki kekurangan, tetapi Tuhan dengan bijaksana menutupnya dengan kelebihan dalam hal lain. Hanya terkadang orang lain terlalu jauh dari sifat Tuhan yang mulia itu. Tidak setiap orang menerima kekurangan orang lain. Bahkan ada yang terjebak dalam kerancuan yang mereka sebut sebagai “kekurangan”.
Apakah salah wajah seseorang tidak seindah wajah orang lain?
Apakah salah tubuh seseorang tidak selengkap dan seindah orang lain?
Apakah salah seseorang tidak sekaya orang lain?
Tentu saja TIDAK. Seseorang nggak pernah bisa disalahkan karena hal-hal itu. Ya mungkin kamu sendiri juga ga pernah mengaku pernah menyalahkan orang lain karena hal-hal itu, kayak saya dulu. Tapi dalam banyak hal, sikap menghakimi sering muncul di permukaan.
Tapi, memang semua adalah subjektivitas dan hak individu. Misalnya Anda ditawari sebuah mobil secara gratis. Yang satu mobil mewah dengan kecepatan waah..Satu lagi mobil tua modifikasi yang menggunakan minyak goreng sebagai bahan bakar. Bukan hal yang salah jika kamu milih sang mobil mewah dan menyingkirkan si mobil modifikasi tadi. Satu pertanyaannya, apakah lebih baik jika kamu memilih mobil tua yang ramah lingkungan itu? O iya, mobilnya nggak boleh dijual lho,hehe.
Semua memang jatuh pada subjektivitas manusia. Jadi orang ga bisa disalahkan karena menurut dia keputusannya adil buat dirinya. Apakah itu adil untuk orang lain juga? Entahlah,..
Dan dulu pun saya punya pendapat yang bertentangan,”Saya nggak mau terima kamu apa adanya, tapi saya akan mengubah kamu jadi lebih baik.” Siapa sih yang nggak mau jadi lebih baik?
Saya pegang prinsip itu erat-erat. Tuhan pasti menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan. Dan saya percaya ada beberapa kekurangan dapat diubah, entah melalui usaha sendiri ataupun lewa tangan orang lain. Saya percaya semua itu bisa.
Akan tetapi, belakangan nampaknya kata-kata itu harus direvisi. Inti dari prinsip itu masih saya pegang, tetapi yang harus bergeser adalah tentang apa sih kekurangan kita?
Tuhan menciptakan kita dengan tambal sulam di berbagai sudut. Tapi itulah yang membuat sempurna. Sempurna itu bukan tanpa cela, sempurna itu bukan tidak pernah berbuat keliru. Sempurna itu tahu apa yang salah dengan dirinya dan mengerti bagaimana memperbaiki kesalahannya. Tuhan itu Maha Adil. Suatu kepastian seseorang memiliki kekurangan, tetapi Tuhan dengan bijaksana menutupnya dengan kelebihan dalam hal lain. Hanya terkadang orang lain terlalu jauh dari sifat Tuhan yang mulia itu. Tidak setiap orang menerima kekurangan orang lain. Bahkan ada yang terjebak dalam kerancuan yang mereka sebut sebagai “kekurangan”.
Apakah salah wajah seseorang tidak seindah wajah orang lain?
Apakah salah tubuh seseorang tidak selengkap dan seindah orang lain?
Apakah salah seseorang tidak sekaya orang lain?
Tentu saja TIDAK. Seseorang nggak pernah bisa disalahkan karena hal-hal itu. Ya mungkin kamu sendiri juga ga pernah mengaku pernah menyalahkan orang lain karena hal-hal itu, kayak saya dulu. Tapi dalam banyak hal, sikap menghakimi sering muncul di permukaan.
Tapi, memang semua adalah subjektivitas dan hak individu. Misalnya Anda ditawari sebuah mobil secara gratis. Yang satu mobil mewah dengan kecepatan waah..Satu lagi mobil tua modifikasi yang menggunakan minyak goreng sebagai bahan bakar. Bukan hal yang salah jika kamu milih sang mobil mewah dan menyingkirkan si mobil modifikasi tadi. Satu pertanyaannya, apakah lebih baik jika kamu memilih mobil tua yang ramah lingkungan itu? O iya, mobilnya nggak boleh dijual lho,hehe.
Semua memang jatuh pada subjektivitas manusia. Jadi orang ga bisa disalahkan karena menurut dia keputusannya adil buat dirinya. Apakah itu adil untuk orang lain juga? Entahlah,..
12 Mei 2010
Aku Hanya harus Memaksamu
Ada suatu nasihat “Jangan pernah lelah berbuat baik.” Oh, suatu nasehat yang amat sangat bagus…tapi menurutmu apakah benar bila ada yang berkata “jangan pernah lelah menerima kebaikan”??
Seorang teman bilang dirinya akan bahagia bila orang yang dia cintai bahagia, meskipun tanpa dirinya. Saya yakiin itu benarbenar datang dari hatinya, tapi saya masih nggak mengerti bagaimana dia bisa. Apakah memang perasaan nggak harus dimengerti? Pengorbanan dan kebaikan ga harus dimengerti tapi dilaksanakan??
Setelah dia berkata itu, saya mencoba menirunya. Mendapattkan kebahagiaan dari kebahagiaan orang lain. Kita harus memberi untuk mendapatkan.
Terkadang itu berhasil, sering kali pula harus memaksa diri untuk tersenyum. Bukan pujian yang diharapkan,sungguh,mungkin hanya sedikit kata terimakasih. Secuil kata itu bisa menunjukkan keberadaan. Kamu ada, kamu diakui…
Saya tahu saya tidak tidak tidak pernah cukup baik untuk diberi semua hal yang saya inginkan. Saya tahu semua yang telah dikaryakan dan dikorbankan tidak menjadi alasan saya pantas untuk semua itu.
Manakah Tuhan yang akan Engkau berikan padaku?
Itu adalah rahasia besar. Saya hanya akan tahu, ketika sampai di suatu titik saya berhasil mendapatkannya. Dan saya juga hanya akan tahu, ketika saya telah sampai di ujung jalan tanpa menemui apa yang saya inginkan. Misteri besar,..
Dosen tadi bilang..apa yang kita capai nggak akan jauh-jauh dari apa yang kita cita-citakan. Tentu saja, tapi ingat..Apa yang kita inginkan nggak akan jauh dengan apa yang kita usahakan.
Akan selalu lebih mudah berurusan dengan kepentingan diri sendiri daripada dengan kepentingan orang lain. Apakah hidup memang kompetitif dalam mencapai impian?
Apakah setiap hal yang kita dapat nanti sama saja dengan setiap hal yang orang lain gagal meraihnya?
Seperti opportunity cost dengan subjek yang berbeda.
Kita kuliah di suatu universitas dengan menyisihkan satu orang yang berkeinginan sama..
Tapi ego berteriak,.Hey,itu adil..itu hakmu!!!
Kamu telah berusaha dengan jujur dan baik..lupakan orang lain dan pikirkan dirimu sendiri!!
Tetapi apakah itu beneran adil? Tetapi apakah selalu ada keadilan di dunia ini?
Kesimpulan gila…”Orang lain akan bahagia jika aku bahagia”…
Bukankah ini sebuah lingkaran..hanya siapa dulu yang berhak bahagia, dirimu sendiri atau orang lain…toh, semua bahagia, hanya tidak bersamaan…paling sempurna kita bahagia bersama..
Ada suatu alasan bagus untuk berhenti menyalahkan orang lain. Kegagalanmu bukan karena
Seorang teman bilang dirinya akan bahagia bila orang yang dia cintai bahagia, meskipun tanpa dirinya. Saya yakiin itu benarbenar datang dari hatinya, tapi saya masih nggak mengerti bagaimana dia bisa. Apakah memang perasaan nggak harus dimengerti? Pengorbanan dan kebaikan ga harus dimengerti tapi dilaksanakan??
Setelah dia berkata itu, saya mencoba menirunya. Mendapattkan kebahagiaan dari kebahagiaan orang lain. Kita harus memberi untuk mendapatkan.
Terkadang itu berhasil, sering kali pula harus memaksa diri untuk tersenyum. Bukan pujian yang diharapkan,sungguh,mungkin hanya sedikit kata terimakasih. Secuil kata itu bisa menunjukkan keberadaan. Kamu ada, kamu diakui…
Saya tahu saya tidak tidak tidak pernah cukup baik untuk diberi semua hal yang saya inginkan. Saya tahu semua yang telah dikaryakan dan dikorbankan tidak menjadi alasan saya pantas untuk semua itu.
Manakah Tuhan yang akan Engkau berikan padaku?
Itu adalah rahasia besar. Saya hanya akan tahu, ketika sampai di suatu titik saya berhasil mendapatkannya. Dan saya juga hanya akan tahu, ketika saya telah sampai di ujung jalan tanpa menemui apa yang saya inginkan. Misteri besar,..
Dosen tadi bilang..apa yang kita capai nggak akan jauh-jauh dari apa yang kita cita-citakan. Tentu saja, tapi ingat..Apa yang kita inginkan nggak akan jauh dengan apa yang kita usahakan.
Akan selalu lebih mudah berurusan dengan kepentingan diri sendiri daripada dengan kepentingan orang lain. Apakah hidup memang kompetitif dalam mencapai impian?
Apakah setiap hal yang kita dapat nanti sama saja dengan setiap hal yang orang lain gagal meraihnya?
Seperti opportunity cost dengan subjek yang berbeda.
Kita kuliah di suatu universitas dengan menyisihkan satu orang yang berkeinginan sama..
Tapi ego berteriak,.Hey,itu adil..itu hakmu!!!
Kamu telah berusaha dengan jujur dan baik..lupakan orang lain dan pikirkan dirimu sendiri!!
Tetapi apakah itu beneran adil? Tetapi apakah selalu ada keadilan di dunia ini?
Kesimpulan gila…”Orang lain akan bahagia jika aku bahagia”…
Bukankah ini sebuah lingkaran..hanya siapa dulu yang berhak bahagia, dirimu sendiri atau orang lain…toh, semua bahagia, hanya tidak bersamaan…paling sempurna kita bahagia bersama..
Ada suatu alasan bagus untuk berhenti menyalahkan orang lain. Kegagalanmu bukan karena
Langganan:
Postingan (Atom)